![]() |
| Kusumo (kiri) saat menghadiri pameran seni Emparty Fest #1 di TBJT |
JURNAL SOLO, Solo — Kemeriahan gelaran pameran lukisan Emparty Fest #1 yang berlangsung di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Kamis (6/8) malam menyisakan ganjalan di hati para seniman.
Ini terkait dengan harapan para seniman kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta agar segera menghadirkan gedung kesenian dan kebudayaan terpadu sebagai rumah bersama bagi para pelaku seni, yang belum juga terwujud.
Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH, memberikan apresiasi terhadap keberanian para seniman yang terus menyuarakan kebutuhan tersebut.
Menurut Kusumo, persoalan ketiadaan fasilitas seni yang representatif bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh para pelaku seni di Solo.
“Ini adalah fakta empiris yang harus mendapatkan perhatian serius. Pembangunan fasilitas pameran dan pertunjukan mandiri sudah sangat mendesak karena menjadi kebutuhan primer untuk menjaga eksistensi Solo sebagai Kota Budaya,” tegas Kusumo saat menyaksikan pameran tersebut.
Ia menilai keberadaan gedung kesenian terpadu akan menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem seni rupa, pertunjukan, hingga regenerasi seniman di Kota Bengawan.
“Kami sangat mengapresiasi keberanian dan konsistensi para seniman yang terus menyuarakan hal ini. Pemkot Surakarta harus segera mendengarkan aspirasi tersebut dan menghadirkan kebijakan nyata demi terwujudnya fasilitas kesenian terpadu,” ujarnya.
Keresahan para seniman sebelumnya disampaikan oleh Ketua DPW Seniman Merdeka Indonesia Jawa Tengah sekaligus kurator Emparty Fest #1, Gigih Wiyono.
Menurut Gigih, Solo memiliki modal besar sebagai kota seni. Setiap tahun, berbagai perguruan tinggi seni terus melahirkan seniman-seniman muda dengan karya dan gagasan baru.
Namun, perkembangan sumber daya manusia tersebut belum diikuti dengan penyediaan ruang publik seni yang memadai.
“Solo ini kota budaya dan kota seniman yang setara dengan Yogyakarta. Kampus-kampus seni terus melahirkan alumni dan seniman hebat, tetapi kita tidak punya tempat (gedung kesenian) sendiri yang representatif,” kata Gigih.
Selama ini, kata Gigih, berbagai kegiatan seni berskala besar masih banyak bergantung pada fasilitas TBJT yang merupakan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kondisi tersebut membuat para seniman harus melalui proses birokrasi yang panjang serta menyesuaikan dengan jadwal penggunaan ruang yang terkadang harus menunggu antrean.
“Selama ini seluruh aktivitas pameran berskala besar masih menumpang di fasilitas TBJT melalui proses birokrasi yang berjenjang,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong agar Pemkot Surakarta segera membangun gedung kesenian mandiri yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pameran, tetapi juga menjadi pusat aktivitas budaya.
“Sudah seharusnya Solo memiliki gedung kesenian terintegrasi yang mencakup ruang pameran, ruang pertunjukan, hingga pasar seni untuk menampung karya para seniman,” tegas Gigih.
Di tengah munculnya keresahan tersebut, Emparty Fest #1 justru menjadi bukti bahwa energi kreatif para seniman Solo masih sangat kuat.
Pameran yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 4 hingga 10 Agustus 2026, menghadirkan beragam bentuk ekspresi seni.
Tidak hanya lukisan, ajang ini juga menampilkan fotografi artistik, seni tempa keris, seni patung, tari tradisional kontemporer, hingga pertunjukan musik.
Suasana semakin semarak pada malam pembukaan dengan penampilan grup musik Berlyn N Friends.
Grup yang tengah naik daun itu berhasil menghibur ratusan pengunjung melalui sajian musik lintas genre, mulai dari pop klasik, rock, hingga pop Jawa.
Perpaduan berbagai karya seni tersebut menjadi gambaran bahwa Solo memiliki potensi besar sebagai pusat kebudayaan modern.
Namun, para seniman berharap potensi itu tidak berhenti pada kreativitas semata, melainkan mendapatkan dukungan berupa infrastruktur yang memadai.
Sebab, tanpa ruang yang layak, karya besar para seniman berisiko kehilangan panggungnya sendiri. //Sik


Social Header