HEADLINE

Sajikan Cita Rasa Nusantara, Makanan Siap Saji Asal Solo Jadi Favorit Jemaah Haji

Owner PT HaTI, Puspo Wardoyo (tiga dari kiri) saat berada di Arab Saudi guna memastikan kelancara distribusi makanan siap saji produksinya

JURNAL SOLO, Solo - Di tengah tantangan penyediaan konsumsi bagi jutaan jemaah haji di Arab Saudi, makanan siap saji produksi Solo justru menunjukkan keunggulannya. 

Tak hanya praktis dan mudah didistribusikan, makanan siap saji atau Meal Ready to Eat (MRE) buatan PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HaTI) juga mendapat apresiasi karena cita rasanya yang dinilai lebih dekat dengan lidah masyarakat Indonesia.

Respons positif itu datang langsung dari para jemaah yang mengonsumsi produk tersebut saat puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Melalui berbagai unggahan media sosial, jemaah mengaku terkejut dengan kualitas makanan yang mereka terima.

Salah satu jemaah yang mengunggah pengalamannya di TikTok menyebut menu semur ayam yang disantapnya memiliki rasa autentik khas Indonesia. 

Potongan ayam yang besar, kentang yang lembut, serta bumbu yang meresap menjadi nilai tambah yang membuat makanan tersebut terasa seperti masakan rumah sendiri.

Pujian serupa juga diberikan pada menu rendang daging yang dinilai memiliki porsi lauk melimpah dan rasa yang kuat. 

Bagi jemaah yang sudah berhari-hari berada di Tanah Suci, kehadiran menu bercita rasa Nusantara menjadi pelepas rindu terhadap masakan Indonesia.

Owner PT HaTI, Puspo Wardoyo, mengatakan salah satu keunggulan utama produk MRE yang diproduksi di Solo adalah formulasi bumbu yang memang dirancang sesuai selera masyarakat Indonesia.

"Komentar yang kami terima, makanan ini lebih enak daripada makanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia," ujarnya.

Selain soal rasa, keunggulan lain dari makanan siap saji asal Solo ini adalah kemampuannya menjawab tantangan distribusi konsumsi selama musim haji.

Saat jutaan jemaah bergerak menuju Armuzna, distribusi makanan menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. 

Cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan manusia, serta keterbatasan akses kendaraan distribusi sering kali menjadi hambatan dalam penyediaan makanan segar.

Dalam kondisi tersebut, makanan siap saji menjadi solusi yang efektif. Produk dapat didistribusikan lebih mudah, tidak memerlukan proses memasak di lokasi, dan tetap aman dikonsumsi meski disimpan dalam waktu lama.

Keunggulan inilah yang membuat pemerintah memanfaatkan MRE sebagai bagian dari skema konsumsi jemaah selama fase puncak ibadah haji.

Tak hanya membantu kelancaran distribusi, penggunaan MRE juga meringankan beban dapur katering yang harus bekerja di tengah keterbatasan infrastruktur dan cuaca ekstrem.

Keunggulan lain yang dimiliki produk MRE asal Solo adalah teknologi pengolahannya. Seluruh makanan diproses menggunakan sistem sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga mampu bertahan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin.

Teknologi tersebut membuat kualitas makanan tetap terjaga mulai dari proses produksi di Indonesia hingga dikonsumsi jemaah di Arab Saudi.

Seluruh produk juga telah mengantongi sertifikasi halal dan standar keamanan pangan internasional ISO 22000, sehingga aspek keamanan dan kualitas pangan tetap terjamin.

Menu yang disiapkan pun beragam, mulai dari semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan hingga empal serundeng. Variasi menu tersebut memberikan pilihan rasa yang lebih kaya bagi jemaah selama menjalankan ibadah.

Di balik jutaan paket makanan yang dikirim ke Arab Saudi, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan ribuan komponen dalam negeri.

Pada musim haji 2026, PT HaTI mengirimkan lebih dari dua juta produk makanan siap saji untuk melayani sekitar 203 ribu jemaah Indonesia. 

Produksi tersebut menggunakan 132 ton daging, ayam dan ikan, lebih dari 2,4 juta butir telur, serta 52 ton rempah-rempah yang sebagian besar berasal dari Indonesia.

Proses produksinya juga melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja.

Menurut Puspo, penggunaan produk makanan siap saji karya anak bangsa bukan hanya meningkatkan kualitas pelayanan bagi jemaah, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi nasional.

Dengan kemampuan menghadirkan cita rasa khas Indonesia, daya tahan tinggi, standar keamanan internasional, serta kemudahan distribusi di tengah kondisi ekstrem, makanan siap saji asal Solo kini menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian dalam penyelenggaraan ibadah haji. 

Bukan sekadar makanan praktis, tetapi juga bukti bahwa produk dalam negeri mampu bersaing dan menjawab kebutuhan layanan haji berskala dunia. [Bang]
Rekomendasi:
© Copyright 2025 - JURNAL SOLO