HEADLINE

Sajikan Cita Rasa Lokal Berstandar Internasional, PT HaTI Kirim Jutaan MakanKu ke Tanah Suci

Puspo Wardoyo menunjukkan salah satu produk MakanKu

JURNAL SOLO, Solo - Di tengah padatnya persiapan musim haji 2026, ada satu cerita menarik dari balik dapur industri makanan siap saji yang berada di bawah naungan Wong Solo Group. Dari sebuah fasilitas produksi milik PT Halalan Thoyyiban Indonesia (HaTI), ribuan makanan siap santap bercita rasa Nusantara disiapkan untuk jutaan jemaah haji di Arab Saudi.

Pemilik Wong Solo Group, H. Puspo Wardoyo, mengungkapkan bahwa keterlibatan pihaknya dalam konsumsi haji dimulai sejak 2023 dan tahun ini menjadi tahun keempat mereka berkontribusi.

“Menu yang dikirim itu rendang, semur, gulai, opor. Ada rendang daging, rendang ayam, opor daging, opor ayam, semur daging, semur ayam, sampai gulai ikan,” ujar Puspo Wardoyo saat ditemui di Hotel Capsule Kalipepe Land, Jumat (16/5/2026).

Tak hanya makanan siap saji atau Ready Meal to Eat, PT HaTI juga mengirimkan ratusan ton bumbu pasta khas Indonesia untuk kebutuhan dapur fresh di Arab Saudi.

“Yang diekspor dari Indonesia itu yang RTE. Kemudian bumbu tadi kita ngirim 150 ton untuk dapur fresh yang totalnya sekitar 22 juta porsi dimasak di sana. Jadi rasanya tetap rasa Indonesia,” katanya.

Di balik produksi besar tersebut, PT HaTI menerapkan standar keamanan pangan yang ketat. Menurut Puspo, ada empat sertifikasi penting yang sudah dikantongi perusahaan sebelum produk bisa dikirim ke Arab Saudi.

Sertifikasi itu meliputi PMR dari BPOM, sertifikat halal BPJPH, ISO 22000 terkait food safety, hingga approval dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA).

“Kalau belum dapat approval SFDA, makanan tidak bisa ekspor ke Saudi. Jadi empat sertifikat ini menjamin bahwa proses produksinya memang sudah memenuhi standar,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses audit tidak hanya menyasar produk, tetapi juga infrastruktur pabrik, layout produksi, peralatan, hingga sistem kerja para pegawai.

Salah satu hal yang paling menarik dari produk PT HaTI adalah kemampuannya bertahan hingga 18 bulan tanpa bahan pengawet.

Menurut Puspo, rahasianya terletak pada teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi.

“Makanan dipanasi pada suhu 121 derajat dengan tekanan 2 bar. Sebelum itu dikemas vakum dan higienis. Jadi mikroba patogen di dalam mati, sementara dari luar tidak bisa masuk karena kemasannya rapat,” terangnya.

Dengan teknologi tersebut, makanan tetap aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa tambahan bahan pengawet.

“Kita mendapatkan shelf life dari SFDA itu 18 bulan,” ujarnya.

Namun, setelah kemasan dibuka, makanan akan berlaku seperti makanan biasa.

“Kalau sudah dibuka ya maksimal sekitar delapan jam,” katanya.

Puspo menilai makanan siap saji menjadi solusi penting pada masa puncak haji atau Armuzna, yakni saat jutaan jemaah berkumpul di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Ia menggambarkan bagaimana padatnya kondisi di sana membuat distribusi logistik sering terkendala.

“Bayangkan dua juta orang berkumpul di tempat yang sempit. Setiap jemaah hanya dapat ruang sekitar 0,7 meter di tenda. Transportasi susah, logistik susah, bikin dapur besar juga susah,” ujarnya.

Karena itulah, makanan RTE menjadi jawaban atas persoalan distribusi konsumsi jemaah.

“Kalau dulu sering terlambat karena truk macet lalu makanan basi. Kalau RTE ini bisa di-drop lebih dulu sebelum crowded,” jelasnya.

Untuk pengiriman tahun ini, seluruh produk diberangkatkan menggunakan pesawat langsung dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah.

“Kalau kapal sekarang susah karena situasi perang. Jadi semua pakai pesawat supaya pasti sampai,” katanya.

Menariknya lagi, makanan produksi PT HaTI disebut bisa langsung disantap tanpa perlu dipanaskan terlebih dahulu.

“Kita menciptakan resep sehingga makanan ini bisa dinikmati tanpa treatment apa pun. Tanpa dipanasi, tanpa microwave, langsung bisa dimakan,” kata Puspo.

Ia bahkan mengklaim teknologi tersebut saat ini baru dimiliki PT HaTI untuk kebutuhan konsumsi haji.

“Untuk haji ini baru PT HATI atau Wong Solo Group yang bisa memproduksi itu sampai saat ini,” ujarnya.

Dalam proses produksinya, seluruh pekerja diwajibkan menjalankan SOP ketat mulai dari penggunaan hairnet, masker, sarung tangan, hingga pergantian alas kaki sebelum masuk area produksi.

“Kalau melanggar SOP bisa dicabut izinnya. Jadi itu sudah mutlak,” tegas Puspo.

Ia juga memastikan seluruh bahan baku berasal dari dalam negeri, termasuk bumbu-bumbu yang dikirim ke Arab Saudi.

“Iya, semua lokal,” katanya.

Tak hanya makanan RTE, PT HaTI juga disebut menguasai hampir seluruh kebutuhan pasta bumbu untuk konsumsi haji Indonesia tahun ini, mulai dari rendang, gulai, opor, balado hingga 28 jenis bumbu lainnya.

“Kalau dibilang monopoli ya memang karena yang paling siap cuma kita. Pabriknya siap, kualitasnya siap, dan tanpa pengawet,” pungkasnya. [Her]
Rekomendasi:
© Copyright 2025 - JURNAL SOLO