JURNAL SOLO, Sragen – Gelaran Festival Sambel Tumpang Nusantara 2026 yang berlangsung pada 14-15 Februari 2026 di halaman kantor Pemkab Sragen, dihadiri sosok yang tak asing lagi di dunia kuliner, Puspo Wardoyo.
Owner Wong Solo Group ini hadir bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai juri yang memberikan penilaian kritis sekaligus apresiasi tinggi terhadap kuliner khas Bumi Sukowati tersebut.
Sebagai seorang pecinta sekaligus pelanggan setia sambel tumpang, Puspo Wardoyo memberikan testimoni jujur setelah mencicipi berbagai kreasi yang disuguhkan para peserta.
Menurutnya, sambel tumpang Sragen memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan daerah lain seperti Boyolali.
Pemilik obyek wisata Kalipepe Land ini mencatat bahwa jika di daerah lain penggunaan tempe semangit terasa sangat dominan, maka racikan di Sragen ini terasa sangat pas di lidah.
"Kalau saya makan itu di Boyolali banyak tempe busuknya, tapi kalau di Sragen ini enak, enak semua. Tadi saya sudah nyicip semua," ungkap Puspo dengan antusias.
Tak hanya memuji rasa, Puspo Wardoyo mendorong Pemerintah Kabupaten Sragen untuk melangkah lebih jauh dalam mempromosikan potensi lokal ini agar bisa disebarluaskan ke seluruh Nusantara.
Ia meyakini bahwa pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus dengan menyediakan ruang representatif bagi kuliner ini.
"Bupati harus kasih tempat khusus ya, Sambel Tumpang Sragen. Saya yakin diburu orang-orang luar kota," tegasnya.
Baginya, pencapaian rekor MURI yang diraih dalam festival ini hanyalah sebuah permulaan, sehingga sangat penting untuk segera membentuk ekosistem yang berkelanjutan, agar para wisatawan memiliki tujuan pasti saat berkunjung ke Sragen.
Salah satu poin paling menarik dari pandangan Puspo adalah visinya mengenai industrialisasi kuliner tradisional ini agar bisa dijadikan oleh-oleh yang praktis.
Ia menawarkan kolaborasi melalui pabrik pengolahan makanan miliknya untuk membantu proses pengemasan sambel tumpang agar lebih tahan lama dan bisa menembus pasar yang lebih luas.
"Ini harus kerja sama, bisa kita bawa ke pabrik saya. Pabrik saya itu mengawetkan masak-masakan untuk menjaga kelestarian. Bisa awet dua tahun di tempat saya," jelasnya.
Puspo juga menekankan bahwa identitas daerah harus diperkuat melalui langkah yang nyata, bukan sekadar seremonial.
"Harapan saya, ini harus dilestarikan. Sragen Kampung Sambel Tumpang itu harus, jadi jangan hanya sekadar dapat MURI saja. Saya yakin orang luar itu datang semua karena ini sudah langka," pungkasnya. [Her]


Social Header